Montag, 7. Januar 2013

erempuan dan Laki-Laki dalam Dunia Kerja di Jerman


Perempuan dan Laki-Laki dalam Dunia Kerja

Sama halnya dengan keadaan di negara lain dengan tatanan masyarakat modern, persamaan hak untuk kaum perempuan yang dituntut oleh undang-undang dasar telah mengalami perkembangan cukup jauh. Di bidang pendidikan misalnya, anak perempuan tidak saja dapat mengejar ketertinggalan terhadap anak laki-laki, melainkan malah sudah mendahului mereka. Di antara peserta ujian akhir gimnasium – yaitu sekolah lanjutan taraf tertinggi – terdapat 56 persen perempuan; andil perempuan muda pada jumlah mahasiswa baru di perguruan tinggi mencapai 50 persen. Empat puluh dua persen dari gelar doktor diraih oleh perempuan.

Semakin banyak perempuan mencari nafkah dalam pekerjaan. Sebagai salah satu dampak undang-undang tahun 2008 yang mengatur tunjangan dalam hal perceraian, kegiatan kerja menjadi semakin penting bagi kaum perempuan – memang hampir 70 persen di antara mereka bekerja. Namun sedangkan kebanyakan laki-laki bekerja purnawaktu, perempuan sering bekerja paruh waktu, khususnya mereka yang anaknya belum masuk sekolah. Dalam hal upah dan gaji pun masih tetap ada perbedaan cukup besar antara laki-laki dan perempuan. Tingkat gaji rata-rata dari perempuan yang bekerja purnawaktu hanya senilai 77 persen dari imbalan kerja rata-rata rekan laki-lakinya, dalam kelompok penerima gaji tertinggi bahkan hanya 73 persen. Biarpun perempuan kini semakin sering meraih posisi pimpinan dalam dunia kerja, halangan yang mereka hadapi dalam meniti karier masih cukup besar juga. Contohnya, hampir separuh di antara para mahasiswa, tetapi hanya sepertiga di antara karyawan ilmiah dan 17 persen saja di antara para profesor adalah perempuan.

Salah satu faktor penghalang bagi kenaikan posisi dalam pekerjaan ialah, jaringan tempat asuhan anak balita masih perlu dioptimalkan, dibandingkan dengan keadaan di negara Eropa lainnya. Perubahan yang terjadi dalam hal pembagian kerja rumah tangga antara perempuan dan laki-laki masih relatif kecil juga. Walaupun 80 persen di antara para ayah menyatakan ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka, tetapi kaum perempuan, termasuk mereka yang bekerja, menyediakan waktu untuk mengasuh anak dua kali lipat banyaknya. Boleh dikatakan yang memanfaatkan fasilitas cuti asuhan anak hingga kini hanya kaum perempuan saja. Namun sejak berlakunya aturan tunjangan orangtua, (lihat halaman 147) jumlah ayah yang cuti sementara dari tempat kerja untuk mengasuh bayinya meningkat menjadi hampir 16 persen lebih. Akan tetapi mayoritas para ayah tersebut (70 persen) memilih tinggal di rumah selama dua bulan saja.

Dibandingkan dengan penempatan posisi pimpinan di dunia usaha, perempuan sudah lebih mapan di dunia politik. Dalam kedua partai politik besar, SPD dan CDU, hampir setiap ang­gota ketiga atau keempat adalah perempuan. Perkembangan menarik terjadi dalam keanggotaan Bundestag: Pada tahun 1980 hanya delapan persen anggota parlemen adalah perempuan, kini hampir 33 persen. Sejak tahun 2005 Angela Merkel menjadi perempuan pertama yang menjabat Kanselir Federal Jerman.

Bertambahnya Persiapan Pribadi untuk Jaminan Hari Tua

Bertambahnya Persiapan Pribadi untuk Jaminan Hari Tua

Sistem jaminan hari tua pun dirombak secara mendasar. Asuransi purnakarya yang diatur oleh undang-undang tetap menjadi sumber pendapatan utama di hari tua, namun persiapan dana purnakarya oleh perusahaan atau perorangan semakin penting. Dengan adanya asuransi pelengkap “Riester-Rente”, serta “Rürup-Rente” untuk penyandang profesi mandiri, telah tercipta model yang memungkinkan pengumpulan dana purnakarya pribadi yang terjamin oleh modal dan mendapat keringanan pajak. Begitu juga diberi subsidi untuk pemilikan tempat tinggal di masa purnakarya melalui undang-undang khusus. Pembaruan tersebut mencakup pula kenaikan usia masuk masa purnakarya dari 65 menjadi 67 tahun. Mulai tahun 2012 sampai tahun 2035, batas usia itu akan dinaikkan sebanyak satu bulan per tahun.

Orang Lanjut Usia yang Aktif dan Mandiri di Jerman


Orang Lanjut Usia yang Aktif dan Mandiri

Di Jerman, kira-kira setiap orang keempat berusia di atas 60 tahun. Disebabkan oleh angka kelahiran yang sudah lama berting­kat rendah dan oleh usia harapan hidup yang terus meningkat sejajar dengan itu, masyarakat Jerman mempunyai segmen orang lanjut usia terbesar ketiga di dunia setelah Jepang dan Italia.Cara hidup dan gaya hidup mereka pun telah banyak berubah dan mengalami diversifikasi selama beberapa dasawarsa terakhir ini. Mayoritas orang lanjut usia kini tinggal sendiri, terlibat aktif dalam masyarakat, memelihara kontak dengan anak-anak dan keluarga, dan biasanya juga cukup sehat untuk terus menjalankan kehidupan secara mandiri dan mengisi waktu secara aktif. Dari segi keuangan, keadaan generasi tua cukup aman. Setelah reformasi sistem asuransi purnakarya pada tahun 1957, para penerima uang purnakarya lambat laun mencapai partisipasi penuh dalam kesejahteraan umum. Kemiskinan pada usia tua memang belum hilang sama sekali, akan tetapi risiko untuk jatuh miskin lebih kecil dibandingkan pada kelompok usia lainnya.

Kini jarang ada keluarga yang mencakup tiga generasi dan tinggal serumah, namun hubungan emosional antara anak dewasa dan orang tua serta antara kakek-nenek dan cucu seringkali sangat erat. Pemerintah Federal telah melancarkan proyek contoh untuk semakin mempererat dan memperkuat hubungan antargenerasi. Dalam rangka itu kini telah didirikan “rumah multigenerasi” di hampir setiap distrik dan kota besar di Jerman. Di seluruh Jerman terdapat 15.000 orang yang berkegiatan di ke-500 rumah multigenerasi bersubsidi itu yang berfungsi sebagai tempat informasi, jaringan dan rujukan bagi konsultasi keluarga, pemeliharaan kesehatan, penanggulangan krisis dan perencanaan bantuan.

Migrasi dan Integrasi di Jerman


Migrasi dan Integrasi

Jerman adalah negara yang paling padat penduduknya di Uni Eropa. Sekitar 82 juta warga tinggal di wilayah Jerman, seperenam di antaranya di Jerman bagian timur, yaitu di wilayah bekas RDJ. Terutama di kawasan utara dan timur Jerman terdapat daerah yang dihuni minoritas nasional Denmark dan Frisia, orang Sinti dan Roma (gipsi Jerman), serta suku bangsa Sorbia. Mereka masing-masing memiliki budaya, bahasa, sejarah dan identitas sendiri.

Sejak terjadinya boom di era pascaperang pada tahun 1950-an, perekonomian Jerman memerlukan pekerja migran. Sebagian besar pendatang yang dinamakan “pekerja tamu” pada waktu itu telah kembali ke negara-negara asal mereka di Eropa Selatan atau Tenggara, namun tidak sedikit yang menetap di Jerman. Banyak di antara migran Turki yang datang kemudian menetap pula. Lambat laun Jerman berubah dari negara penerima pekerja tamu menjadi negara dengan arus imigrasi terkendali. Kelompok imigran kedua yang besar adalah para transmigran keturunan Jerman yang telah bermukim sejak beberapa generasi di negara-negara bekas Uni Sovyet, di Rumania dan di Polandia. Mereka kembali ke Jerman, dan arusnya bertambah kuat setelah runtuhnya sistem komunis di negara-negara itu.

Tata Nilai dan Kualifikasi Kaum Muda di Jerman


Tata Nilai dan Kualifikasi Kaum Muda

Bagi pemuda-pemudi, kelompok acuan sosial pokok – selain klik-klik anak sebaya yang semakin penting artinya – adalah keluarga. Belum pernah begitu banyak orang muda – hampir separuh jumlah pemuda berumur 24 tahun dan 27 persen dari pemudi sebaya – masih tinggal di rumah orang tua mereka. Hampir semua responden dari kelompok umur 12 sampai 29 tahun meng­aku memiliki hubungan sangat baik dan penuh kepercayaan dengan orang tua mereka.

Salah satu sebab orang muda kini berada lebih lama di lingkungan keluarga adalah semakin banyaknya orang muda yang tinggal semakin lama dalam sistem pendidikan. Tingkat kualifikasi mereka meningkat secara nyata. Secara keseluruhan, 45 persen dari lulusan (kelompok usia 18-20 tahun) berhak masuk perguruan tinggi. Lebih dari dua pertiga di antara mereka mulai berkuliah dalam jangka waktu tiga tahun. Sekitar sepersepuluh meninggalkan sistem pendidikan tanpa merampungkan pendidikan kerja. Kelompok bermasalah terutama meliputi orang muda yang berasal dari lapisan masyarakat berekonomi lemah dan dari keluarga migran.

Pada bagan golongan politik kiri-kanan secara tradisional, posisi generasi muda – seperti biasa – sedikit lebih kiri daripada penduduk seluruhnya. Namun sangat jarang ada yang mengambil pendirian politik yang ekstrem. Sebaliknya terdapat kesediaan yang sangat tinggi untuk aktif sebagai sukarelawan dan dalam kegiatan sosial. Sekitar tiga perempat dari semua orang muda aktif di bidang sosial dan lingkungan hidup. Mereka bekerja secara sukarela untuk orang lanjut usia yang memerlukan bantuan, untuk pelestarian lingkungan dan binatang, untuk orang miskin, migran dan penyandang cacat.

Yang terus meningkat pula ialah jumlah laki-laki dan perempuan muda yang memilih menjalani Masa Karya Sukarela di bidang sosial atau ekologi selama setahun – pada tahun 2009 jumlahnya mencapai 6.720 orang. Terlepas dari itu berlaku wajib militer umum bagi pemuda selama sembilan bulan (kemungkinan besar masa dinas itu akan dipersingkat menjadi enam bulan mulai tahun 2011). Pada tahun 2009 ada 68.000 laki-laki muda yang mulai menjalani masa dinas pokok pada Bundeswehr. Orang yang, berdasarkan alasan hati nurani,  menolak melakukan dinas dengan senjata dan diakui sebagai penolak wajib militer harus melakukan Dinas Sipil selama sembilan bulan. Dinas Sipil itu membuka kemungkinan untuk mencari pengalaman di berbagai lingkungan kerja di bidang sosial dan pelestarian lingkungan. Pada tahun 2009 terdapat 90.500 pemuda yang direkrut untuk Dinas Sipil.

jaminan sosial di Jerman


Jaminan Sosial

Kesejahteraan untuk semua dan keadilan sosial, itulah sasaran yang dituju Ludwig Erhard, Menteri Federal Urusan Ekonomi pada waktu ekonomi pasaran berorientasi sosial diterapkan di Jerman pada akhir tahun 1950-an. Tata ekonomi “model Jerman” menjadi kisah sukses, dan dicontoh banyak negara. Salah satu pilar utama sukses itu ialah sistem jaminan sosial paripurna. Jaringan sosial di Jerman termasuk yang paling rapat di dunia: 26,7 persen pendapatan nasional bruto dipergunakan untuk belanja negara di bidang sosial. Untuk perbandingan, Amerika Serikat menginvestasikan 15,9 persen di bidang itu, negara anggota OECD rata-rata 20,5 persen. Di Jerman, sistem lengkap yang mencakup asuransi kesehatan, purnakarya, kecelakaan, perawatan dan pengangguran melindungi warga terhadap dampak finansial dari risiko yang dapat mengancam eksistensi. Jaringan sosial itu juga meliputi tunjangan yang dibiayai oleh pajak, seperti dana pengimbang untuk keluarga (tunjangan anak, potongan pajak) atau tunjangan yang menutup pe­ngeluaran untuk kebutuhan pokok purnakaryawan atau orang cacat tetap. Menurut pengertian yang berlaku, Jerman adalah negara sosial yang memprioritaskan jaminan sosial bagi semua warganya.

Sistem yang berciri negara kesejahteraan telah dikenal di Jerman sejak zaman industrialisasi. Pada akhir abad ke-19, Kanselir “Reich”, Otto von Bismarck, mengembangkan struktur dasar asuransi sosial yang dikelola oleh negara. Di bawah bimbingannya lahir undang-undang mengenai asuransi kecelakaan kerja dan asuransi kesehatan, serta untuk jaminan terhadap keadaan tidak sang­gup bekerja akibat cacat, dan jaminan hari tua. Ketika itu hanya 10 persen di antara penduduk Jerman mendapat keuntungan dari legislasi di bidang sosial, sekarang hampir 90 persen menikmati perlindungannya. 

fakta mengenai Jerman


Keluarga Sebagai Lembaga Kemasyarakatan Penting

Dalam kehidupan di abad ke-21 pun, yang ditandai oleh individualisasi dan mobilisasi, keluargalah yang tetap mempunyai arti pokok bagi manusia. Keluarga tetap tergolong institusi sosial terpenting. Untuk hampir 90 persen penduduk Jerman, keluarga memegang tempat utama dalam prioritas pribadi. Di kalang­an kaum muda pun, keluarga dihargai tinggi: Dalam kelompok umur 12 sampai 25 tahun, 72 persen berpendapat bahwa ke­luarga diperlukan untuk hidup berbahagia.

Namun anggapan mengenai wujud keluarga, dan juga struktur keluarga itu sendiri telah mengalami perubahan besar berkenaan dengan pergantian sosial. Dahulu dalam keluarga tradisional golongan menengah, pasangan suami-istri yang hidup dalam perkawinan seumur hidup mengasuh beberapa 
anak dengan pembagian peran yang tegas: Sang ayah bekerja untuk mencari nafkah, sang ibu mengurus rumah tangga. Pembagian tugas menurut “model pencari nafkah” ini masih tetap berlaku – misalnya di lapisan bawah masyarakat, di kalangan migran, atau untuk waktu terbatas selama anak-anak masih kecil. Namun model bentuk keluarga itu tidak lagi merupakan cara hidup yang diikuti kebanyakan orang.

Bentuk kehidupan bersama kian beragam. Sekarang orang jauh lebih bebas untuk memilih di antara berbagai bentuk keluarga, atau untuk hidup tanpa keluarga sama sekali. Perkembangan ini untuk sebagian besar terkait dengan persamaan hak dan dengan peran perempuan yang telah berubah: Kini sekitar 65 persen ibu-ibu bekerja, sedangkan keluarga menjadi lebih kecil. Lebih sering terdapat keluarga dengan anak tunggal daripada keluarga dengan tiga anak atau lebih. Yang terbanyak adalah keluarga dengan dua anak. Semakin sering orang hidup tanpa anak, sebagai pasangan atau sendirian. Pada tahun 2008, setiap perempuan kelima dalam kelompok usia 40-44 tahun tidak mempunyai anak.